Ya, akhirnya sesi 2 tiba. Aku udah mempersiapkan segala sesuatu yg harus disiapkan, aku udah berlatih keras untuk menutupi kekuranganku.. Tapi ternyata, segala sesuatu ga bisa cuma didapatkan di dalam buku, ya aku salah.. Aku bertemu rekanku, yg seakan membuat dunia ini menjadi sangat sempit. Damar, ya damar. Orang yg aku pernah lihat waktu kes I Cakad 2010 kmrn, org yg kulihat memiliki aura yg berbeda dr org yg biasa kutemui, ternyata kami bertemu kembali saat Diksar kemarin, aku menyapanya duluan dan ya, kami berdua adalah mantan Paskibra, dan kami juga kemarin merupakan calon perwakilan penyematan. Tapi akulah yg mampu melampauinya. Anak ini, kupandang sebagai orang yg wajahnya kadet banget, tapi ternyata dia sudah lolos karbol sampai jogja, dan dia peringkat 5 besar dari perwakilan halim. Ya, dia cerdas saya tahu itu. Sedangkan, saya pintar. Aku dan dia berbeda. Dia si cerdas dan aku si pintar. Ayahnya, mengambil S1 untuk 4 jurusan. Sudah lulus 2 jurusan. Dan sekarang sedang melanjutkan S2 juga, kategori manajemen. Istrinya, sudah S3. Damar gugur, bukan karena kekurangan atau kemampuannya. Tapi dia gugur karena masalah sepele, ya, ijazahnya diralat dengan tipe x oleh pihak sekolahnya. Sehingga, ia pun digugurkan dan dilempar ijazahnya oleh panitia..

Psikotes tadi, kami secara ga sengaja ketemu di ruangan psikotes, dan ya.. Dia mendapatkan hasil yg lumayan drpd punya saya.. Sedangkan saya? Saya mengalami penurunan, saya mengerjakan tidak dengan kemampuan saya sepenuhnya, tetapi dengan “akal²an” saya.. Jadi, hasilnya malah lbh buruk.. Saya pintar, ya itu diakui. Tapi sikap kerja dan kepribadian saya minus.. Saya memang pintar, saya memang tekun, saya memang pantang menyerah. Tapi 1 yg fatal, saya arogan dan cenderung tdk mengikuti prosedur. Saya selalu menafsirkan segala sesuatu atas persepsi saya sendiri, (ini kekurangan orang pintar). Saya cenderung tdk menghargai pendapat org lain..kekurangan saya ini, cuma bisa diobatin sama pengalihan mindset dan pola pikir aja sih sebenarnya.. Tapi, itu sulit sekali, kalian pasti pernah ngerasain yg namanya “kalo belajar lewat buku,jelas itu ada stepnya.. Lah kalo belajar memahami diri sendiri?” Itu namanya kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan ini kurang saya miliki. Apakah saya orang cerdas? Definisi dr cerdas sendiri adalah mampu bekerja secara sinergis dengan lingkungan dan orang sekitar. Saya memang selalu diandalkan dimanapun berada, mungkin karena inilah yg membuat saya selalu merasa lebih dan membuat saya arogan. Ya, saya heran, mungkin lebih baik saya akan low profile sebisa mungkin, dan itu berarti mereka semua sudah mengetahui kemampuan saya. Saya hrs mampu membedakan kondisi dimana inferior-superior; tahu-tidak tahu. Saya harus berusaha, dan sekarang, untuk memahami buku.. Saya sudah memaksa otak saya untuk berhenti berpikir sejenak, saya harus menjalani hari² saya dengan lebih santai. Hanya shalat malam yg saya andalkan buat meraih cita² saya. Insya Allah, jalanku memang susah dan menyakitkan, tp dengan begini aku akan tahu setinggi apa sih lereng yg saya daki?